BUNDA AISYAH; SOSOK PEREMPUAN TEGAR
“Nak, memanjat itu memang harus dari
bawah, tidak bisa langsung ke pucuk. Bersabarlah dan jangan menyerah”.
Kalimat ini begitu lekat di ingatan
lantaran diucapkan oleh sosok yang begitu berjasa dalam hidup saya. Kalimat
yang mampu membuat tegar dan semangat berkobar-kobar saat sudah mulai
kehilangan semangat juang. Begitulah Bunda menanggapi keluhan dan keputusasaan
saya yang pada saat itu sedang kuliah semester 3 di STKIP Hamzanwadi Selong
(sekarang Universitas Hamzanwadi). Saat itu saya berkata kepada Bunda bagaimana
kalau kuliah saya tinggalkan kemudian memilih bekerja karena kekurangan biaya.
Sungguh tidak tega melihat Bunda, seorang diri menanggung beban biaya kuliah
dan hidup setelah Ayah meninggal dua tahun sebelumnya.
Sejak tahun 2004 Bunda mejadi orang tua
tunggal bagi saya setelah Ayah meninggalkan kami untuk selamanya tepat pada
tanggal 4 Juni 2004. Saat itu saya sedang menunggu pengumuman kelulusan dari
SMA yang akan dikeluarkan pada tanggal 14 Juni 2004 setelah sebelumnya menempuh
UN. Akhirnya walaupun dalam keadaan berduka hasil pengumuman yang dinanti cukup
membuat suasana hati dan keluarga sedikit bahagia. Saya pun lulus dari SMA
Negeri 1 Masbagik.
Hidup harus terus berlanjut. Demikian
kata yang tepat bagi saya dan Bunda semenjak kepergian Ayah. Kami hidup berdua
di rumah yang ditinggalkan Ayah serta mengurus beberapa petak sawah yang
menjadi warisan. Rencana kuliah di Jawa setelah lulus SMA pun pupus lantaran
tidak tega meninggalkan Bunda sendirian di rumah. Desakan keluarga untuk tetap
di rumah juga mengharuskan saya kuliah di kampus yang dekat dengan rumah. Saya
akhirnya kuliah di Perguruan Tinggi swasta yang hanya membuka jurusan Keguruan
dan Ilmu Pendidikan, padahal ini tidak sesuai dengan keinginan Saya dan Bunda.
Dibanding dengan Almarhum Ayah, saya
memang lebih dekat dengan Bunda. Saya lebih nyaman becerita dan menyapaikan
keluh kesah kepadanya. Saat menginginan sesuatu misalnya, saya lebih memilih
meminta kepada Bunda kemudian disampaikan kepada Ayah. Demikian juga
sebaliknya, Ayah lebih sering menyampaikan sesuatu hal melalui Bunda, jarang
sekali Ayah menyampaikan langsung kepada saya. Bunda akhirnya menjadi penghubung
antara Saya dan Ayah.
Dengan kedekatan inilah mungkin yang
menyebabkan duka karena kepergian Ayah dapat segera terobati. Sosok Bunda bisa
mengisi separuh peran Ayah dalam hidup saya. Termasuk pula dalam memenuhi
kebutuhan hidup kami. Tidak mudah saat itu bagi Bunda untuk membiayai hidup
sekaligus kuliah saya. Saya pun tentu tidak berpangku tangan, pekerjaan di
sawah saya ambil alih dan dibantu oleh Bunda. Kuliah sambil bekerja saya lakoni
saat itu. Menjadi petani dengan bekal kemampuan yang tidak pernah ada
sebelumnya cukup merepotkan, namun Bunda tetap setia membimbing dengan bekal
pengalamannya selama hidup bertani bersama Ayah.
Walaupun dalam keadaan kekurangan, Bunda
Aisyah tidak surut semangatnya dalam memperjuangkan pendidikan saya. Semasa Ayah
masih hidup pun mereka memang sangat gigih dalam hal pendidikan bagi anaknya.
Tentunya ini menjadi dorongan semangat yang luar biasa bagi saya agar terus
berusaha agar bisa menyelesaikan pendidikan saya sampai sarjana.
Dalam pandangan saya Bunda Aisyah memang
sosok perempuan yang tegar. Walaupun dengan keadaan yang serba kekurangan, Dia
tetap terlihat kuat dalam menjalani kehidupan. Tidak pernah saya dengar
mengeluh dan terlihat capek. Optimisme selalu tampak dalam wajahnya yang terus
mengeriput dimakan usia. Tidak pernah tampak dalam wajahnya dan terdengar dari
mulutnya kata patah semangat.
Semangat dan prinsip yang diajarkan oleh
Bunda memang terbukti. Belum selesai kuliah pun saya sudah mulai mengajar di
sebuah Pesantren dengan bekal ilmu bahasa inggris yang saya dapat di bangku
kuliah. Titian karir untuk menjadi guru sesuai dengan kualifikasi pendidikan
sudah mulai dirintis dari awal. Hal yang tidak semua teman mahasiswa bisa
meraihnya saat itu.
Setelah selesai kuliah saya bisa lebih
fokus pada profesi saya sebagi guru. Seiring dengan itu maka keberlangsungan
hidup Saya dan Bunda mulai beralih ke pundak saya. Walaupun sesekali Saudara
yang lain sering membantu juga. Kesempatan untuk menunjukkan cinta dan bakti
pada Bunda Aisyah berganti dari menuntut ilmu sampai sarjana menjadi memenuhi
kebutuhan hidup berdua walaupun belum mampu seluruhnya.
Bahagia sekali bisa mengurangi beban
Bunda Aisyah. Dengan begitu Bunda sudah bisa banyak meluangkan waktu untuk
kegiatan yang tidak menguras tenaga dan terlalu membebani fikiran. Sesekali
Bunda pergi ke rumah saudara saya untuk sekedar menengok cucu. Kadang ke rumah
nenek dan berlama-lama di sana untuk mengurusinya.
Jadwal kajian dan majlis taklim pun rutin
dihadiri oleh Bunda Aisyah. Bahkan tidak jarang tempatnya jauh dan harus
menggunakan transportasi bersama ibu-ibu yang lain. Di sinilah peran saya untuk
mendukung kegiatan ini. Setiap akan pergi ke kajian yang tempatnya agak jauh
maka saya sudah menyiapkan ongkos transportasi kalau itu akan menggunakan
angkutan yang biasa digunakan bersama ibu-ibu yang lain. Sangat bahagia rasanya
memberikan hasil jerih payah bekerja untuk keperluan Bunda. Tugas mengantar pun
selalu siap saya lakukan kalau tempat kajian masih bisa di sekitar desa tempat
kami tinggal. Tentunya apa yang saya lakukan tersebut sangat jauh dari cukup dibanding
apa yang dilakukan oleh Bunda kepada Saya. Namun setidaknya saya tetap berusaha
agar tetap bisa berbuat semampunya demi kebahagiaan Bunda Aisyah.

