PENGALAMAN PERTAMA ITU CANDU
sumber: goodneswfromindonesia.id
Keinginan
untuk bisa menulis sudah terbersit dalam benak ketika baru duduk di bangku
kuliah. Lantaran pada saat kuliah sering mendapat selebaran dari mahasiswa yang
ikut dalam berbagai organisasi. Sangat keren di pandangan saya saat itu, ketika
seorang mahasiswa bisa menulis tentang hal-hal yang menjadi gagasan mereka baik
tentang kampus maupun isu hangat yang sedang terjadi. Namun keinginan itu
hanyalah menjadi mimpi karena tidak pernah berlatih menulis dengan baik.
Mimpi
ingin bisa menulis semakin menjadi-jadi ketika sudah menjadi guru dan sering
diminta untuk membuat proposal bantuan. Begitu juga ketika terlibat aktif dalam
organisasi kepemudaan di desa yang mebutuhkan keterampilan menuls walaupun
sebatas pengantar surat. Ditambah lagi kesukaan saya membaca opini di media
semakin membentuk pemikiran bahwa menulis itu adalah sesuatu yang prestise.
Tapi sekali lagi keinginan tinggallah keinginan tanpa jadi kenyataan.
Hingga
pada saat saya mendapat kesempatan melanjutkan belajar di Universitas Negeri
Surabaya (UNESA), keinginan untuk bisa menulis mulai diasah walupun masih
sebatas untuk tugas kuliah. Pada tahap selanjutnya kegiatan menulis mulai saya
lakukan dengan membuat blog pribadi
dan diisi dengan tugas-tugas kuliah maupun tulisan-tulisan pendek tentang apa
saja yang menarik perhatian saya. Senang sekali rasanya bisa mulai menulis
walaupun masih jauh dari kata bagus.
Untuk
terus memompa semangat dan mengasah pengetahuan tentang menulis, saya sering
mengikuti seminar-seminar kepenulisan yang ada di beberapa kampus di Surabaya.
Selain kota ini dijuluki kota Pahlawan juga oleh banyak kalangan penggerak
literasi (penulis) menyematkan kota Surabaya sebagai Kota Literasi. Julukan
yang sangat tepat saya rasa mengingat kegiatan literasi begitu masif di kota
ini. Bertemu dengan banyak penulis di berbagai seminar menulis membuat saya
semakin semangat untuk terus berlatih menulis. Terlebih lagi salah seorang
dosen saya adalah seorang Sastrawan, penulis terkenal dengan banyak karya dan
penghargaan dari dalam maupun luar negeri. Beliau adalah Budi Darma. Kata
beberapa orang dosen, saya sangat beruntung bisa diajar oleh Budi Darma.
Arus
literasi yang begitu kencang membuat semangat membuncah untuk bisa menuangkan
semua ide dalam tulisan. Namun tentu harus banyak bahan untuk bisa menulis dan
itu bisa didapatkan dari banyak membaca. Benar apa yang banyak dikatakan dalam
seminar-seminar yang saya ikuti bahwa penulis yang baik juga seorang pembaca
yang tekun. Untuk itu maka literasi membca pun saya tingkatkan dengan harapan
bisa menambah wawasan sebagai bahan untuk menulis. Menyisihkan sebagian uang
untuk membeli buku serta berburu info bazaar buku murah masuk dalam daftar hal
yang harus dilakukan.
“Menulis bukanlah sebuah pengetahuan namun
merupakan keterampilan. Oleh karena itu harus dilatih terus menerus”. Kalimat
ini saya dengar dari seorang guru menulis di kelas Menulis Opini di Media yang
diselenggarakan oleh Media Guru. Pertemuan untuk ke sekian kalinya dengan
penulis yang juga mantan editor Jawa Pos ini sangat mempengaruhi dalam
perkembangan kepenulisan saya. Dengan arahan dari Eko Prasetyo inilah kemudian
kegiatan menulis mulai merasa terarah. Dorongan semangat dari Tim Media Guru
juga semakin menguatkan tekad untuk menjadi Guru yang bisa menulis.
Kegiatan
mengisi blog pribadi yang sempat mandeg kini perlahan sudah mulai
dilakukan lagi. Di samping itu juga berbagai tugas menulis dari Eko Prasetyo
sebagai Pemimpn redaksi Media Guru terus dilaksanakan dengan tujuan bisa terus
melatih kemampuan menulis. Hingga pada suatau ketika Pimpinan Umum Media Guru
mengajak semua peserta Kelas Menulis untuk menulis sebuah buku bersama. Ajakan
yang disampaikan dalam forum sebuah Group WA Alumni kelas Menulis itu langsung
disambut oleh anggota dengan gegap gempita dan semangat yang berkobar, tidak
terkecuali saya.
Tidak
disangka bahwa berawal dari kelas menulis opini membawa saya ikut terlibat
dalam penulisan sebuah buku. Walaupun buku ini ditulis bersama namun tidak
megurangi kebanggaan bahwa saya bisa menulis buku. Dengan arahan dari Eko
Prasetyo, sang Guru menulis, kami pun mulai menulis naskah tentang kenangan
yang berkesan dengan guru. Sontak saya teringat dengan guru SD saya yang begitu
lekat dalam ingatan. Akhirnya sebuah buku pun bisa terwujud pada momen suka
cita memeriahkan Hari Guru Nasional, 25 Nopember 2016. Tulisan tentang guru
oleh guru, sungguh menjadi karya monumental bagi saya.
Membayangkan
menulis sebuah buku tentu bukanlah angan-angan saya seorang. Banyak orang ingin
bisa menulis untuk mengabadikan gagasan pada sebuah wadah yang tentunya akan
bisa dibaca oleh orang lain. Tak terkecuali alumni Kelas Menulis Media Guru.
Saling memberi semangat secara daring menghiasi perjalanan dalam menulis naskah
buku antologi tersebut. Bagaimana tidak kami dijatah hanya satu pekan untuk
menyelesaikan naskah masing-masing.
Tak terbayang
bagaimana para pemula dalam kepenulisan buku ini berjibaku untuk bisa
menyelesaikan naskah sesuai dangan tenggat waktu. Waktu satu pekan pun
menyaring 44 orang penulis yang ambil bagian dalam buku yang diberi judul
Terima Kasih Guru. Sebuah karya yang akan menjadi titik awal bagaimana menulis
dan menerbitkan sebuah buku. Sungguh pengalaman yang sangat berharga bagi saya
dan juga 33 orang lainnya. Inilah sebuah pembuktian bahwa menulis harus dilatih
dan diasah terus menerus tanpa henti. Pengalaman pertama ini seolah candu yang
mebuat ketagihan untuk menulis buku berikutnya.


