TERIMA KASIH GURU GALAK
Setelan baju polo dan celana training dengan sepatu ket dan
tidak lupa peluit dengan tali merah melingkar di leher tergambar seketika saat
Saya mencoba mengenang Bapak Guru yang satu ini. Seorang guru yang cukup
memberikan kesan ketika menempuh sekolah untuk tingkat dasar. Dia akrab di
panggil dengan Pak Toyib.
Pak Toyib adalah seorang guru olah raga di SDN Pungkang
(sekarang SDN 2 Masbagik Timur-Lombok). Dia berasal dari Bima dan sudah bertugas
di SD tempat saya sekolah. Oleh siswa dan alumni SD bahkan masyarakat di
sekitarpun lebih mengenal Pak Toyib dengan Guru yang galak.
Seperti pada umumnya pelajaran olah raga kami dapatkan sekali
seminggu sejak duduk di kelas pertama SD. Sejak itulah saya sudah mengenal Pak
Toyib, seorang guru olah raga yang cukup disegani atau lebih tepatnya ditakuti
oleh siswa utamanya siswa kelas tinggi. Bagaimana tidak, Pak Toyib terkenal
dengan kegalakannya terhadap siswa yang tidak disiplin suka bolos dan jarang
masuk.
Sampai kelas dua kesan yang timbul di hati saya hanyalah guru
galak. Tentu cukup menakutkan bagi saya dengan kesan tersebut. Sehingga setiap
pertemuan saat pelajaran olah raga hal itu terus membayangi. Namun kesan
tersebut mulai mulai sedikit berkurang saat saya duduk di kelas 3. Hal itu
lantaran saya dan teman-teman kelas harus bertemu rutin dengan Pak Toyib setiap
hari di kelas. Pak Toyib harus mengisi kelas kami setiap hari sebagai guru
pengganti. Dia menggantikan Guru kelas saya yang pada saat itu tidak bisa masuk
mengajar karena sakit yang cukup parah. Sehingga Pak Toyib sebagai satu-satunya
guru yang tidak menjadi guru kelas ditugaskan untuk menjadi guru kelas saya.
Setiap hari saya dan teman-teman di kelas tiga harus bertemu
dengan Pak Toyib. Tidak hanya diajarkan olah raga tetapi juga pelajaran yang
lain. Berbagai pengetahuan terus diajarkan kepada saya dan teman-teman. Kesan
baik yang mulai tertanam di hati saya semakin tumbuh seiring dengan pertemuan
setiap hari dengan pak Toyib. Walaupun kerap mendapat hukuman dari Pak Toyib
atas kelakuan yang tidak disiplin, misalnya tidak membersihkan kelas dan
halaman. Hukuman berupa berdiri di lapangan dengan satu kaki di angkat
merupakan salah satu yang diterapkan oleh Pak Toyib. Hal ini cukup membuat jera
sehingga saya dan teman-teman tidak berani meninggalkan tugas membersihkan
kelas dan halaman.
Hukuman dari Pak Toyib bukanlah satu-satunya hal yang masih
membekas di benak saya. Ada satu peristiwa yang sampai sekarang tidak
terlupakan. Peristiwa tersebut bermula dari satu pelajaran berhitung yaitu
menghafal perkalian 1 sampai dengan 10. Secara bertahap kami mulai menghafal
perkalian di rumah dan maju ke depan kelas untuk menghafal secara bergantian.
Demikian seterusnya sampai Saya pun bisa menghafal perkalian 1-10 dengan
lancar. Sangat membanggakan pada saat itu bisa menyelesaikan tugas dari Pak
Toyib dan mengungguli teman-teman yang lain.
Pada suatu hari ketika sedang berbincang-bincang di dalam
kelas yang pada saat itu kosong karena Pak Toyib tidak masuk ke kelas saya.
Tiba-tiba ada seorang teman dari kelas 4 datang dan mengatakan bahwa Pak Toyib
memanggil saya dan slah seorang teman ke kelas 4. Saya bertanya-tanya ada
apakah gerangan, begitu juga dengan teman-teman saya. Akhirnya saya berangkat ke
kelas yang dimaksud yang agak jauh dengan kelas saya karena masing-masing
terletak pada ujung bangunan sekolah saya.
Sampai di kelas 4 saya langsung diperkenalkan oleh Pak Toyib.
Saya terheran-heran karena pada saat itu di depan kelas sudah ada beberepa
siswa yang berdiri. Rasa penasaran asya terjawab setelah pak Toyib meminta saya
untuk menunjukkan hafalan saya tentang perkalian. Ternyata kelas 4 saat itu
masih banyak yang tidak hafal perkalian, persisnya saya lupa namun seingat saya
di atas perkalian 2. Saya pun kemudian beraksi dan mulai menunjukkan hasil
hafalan saya.
Rasa gugup sekaligus bangga bercampur saat menghafalkan
perkalian di depan kelas 4. Saya bisa menyelesaikan apa yang diminta oleh Pak
Toyib walaupun agak terbata-beta karena sedikit gugup. Setelah itu saya disuruh
untuk kembali ke kelas.
Sesampainya di kelas, teman-teman pun bertanya-tanya tentang
pemanggilan itu dan dijawab oleh teman yang tadinya ikut dengan saya. Setelah
mengetahui perihal pemanggilan itu mereka menyampaikan. Mendapat pujian dari
teman-teman membuat saya merasa senang sekali. Hasil hafalan selama
berhari-hari dapat ditunjukkan kepada guru dan bahkan kakak kelas.
Permintaan Pak Toyib untuk tampil di depan kakak kelas
merupakan pujian sekaligus pengakuan buat saya. Pujian guru merupakan suatu
penghargaan yang luar biasa bagi siswa. Hal itu sangat ampuh untuk memberikan
dorongan semangat baik kepada saya pribadi, teman-teman kelas maupun siswa di
kelas 4.
Apa yang saya raih pada saat itu tentunya tidak lepas dari
peran Pak Toyib, seorang guru galak yang telaten mengajar, membimbing dan
memberikan semangat kepada saya dan teman-teman. Seorang guru pengganti yang
mengisi hari-hari belajar kami selama satu tahun pelajaran. Bermula dari rasa
takut hingga menjadi terbiasa dengan perlakuan Pak Toyib yang sangat disiplin.
Begitu besar jasanya kepada saya dan teman-teman yang saat itu tidak bisa
diajarkan oleh guru kelas yang seharusnya megajar di kelas kami. Jasa pak Toyib tidak akan pernah terlupa begitu
pula dengan guru-guru yang lain sehingga membuat saya sampai pada sekarang ini.
Terima kasih Pak Toyib, terima kasih Pak Guru Galak.


The best experience.
BalasHapus😊😊
HapusTerima kasih