CERITA LITERASI DARI MADRASAH
Sejak digulirkannya Gerakan
Literasi Sekolah oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2015
yang lalu kata literasi menjadi kata yang begitu “sakti” di dunia pendidikan.
Kata yang makna dasaranya adalah membaca dan menulis ini disusun menjadi sebuah
gerakan yang diharapkan menyeluruh di seluruh Indonesia. Gerakan ini mampu
menggugah sekian banyak stake holder dalam dunia pendidikan untuk ikut
andil di dalamnya. Hal ini tidaklepas dari kesadaran bahwa siswa di Indonesia
masih sangat kurang minatnya dalam membaca. Sehingga berdampak pada kegiatan
membaca yang belum menjadi kebiasaan
baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Berangkat dari kesadaran dan
mengambil momentum gerakan yang begitu massif ini, beberapa teman guru sudah
mulai merancang gerakan literasi di Madrasah. Walaupun dengan berbagai kendala
dan kekurangan terutama terbatasnya bahan bacaan, akhirnya Gerakan Literasi di
Madrasah bisa berjalan. Awalnya dengan menerapkan Membaca Nyaring dan Sustained
Silent Reading (SSR) di kelas oleh salah seorang Guru Mata
Pelajaran. Kegiatan membaca ini belum meyeluruh di satu madrasah, namun masih
terbatas pada satu kelas pada jam Mata Pelajaran yang dipegang oleh salah
seorang Guru. Bacaan yang diberikan lebih banyak berupa bacaan fiksi, berbentuk
cerita pendek maupun novel. Ini dilakukan untuk menarik siswa agar mau membaca.
Karena kecenderungan siswa lebih gemar membaca cerita dari pada bacaan non
fiksi.
Selama tiga bulan pelaksanaan
program SSR ini, Guru sudah bisa melihat hasil mellaui kegiatan penilaian. Soal
disusun berdasarkan target yang ingin dicapai dari kegiatan membaca. Jawaban yang
diinginkan disesuaikan dengan apa tujuan dari kegiatan SSR yang dilaksanakan
selama tiga bulan yang telah lewat. Deskripsi dan narasi menjadi pilihan untuk
bentuk jawaban yang diinginkan. Diharapkan siswa mampu membuat deskripsi dan
narasi sesuai dengan gambar yang diberikan. Dan hasilnya memuaskan setelah
melihat jawaban siswa, sebagian besar menggunakan imajinasi untuk menggambarkan
situasi yang berkaitan dengan gambar yang diberikan.
Melihat hasil dari
program SSR di atas maka bsa disimpulkan bahwa membaca fiksi dapat melatih
siswa untuk mengembangkan imajinasi mereka. Kemudian imajinasi yang
dikembangkan di pikiran meraka tuangkan dalam bentuk tulisan. Bagus dan
tidaknya tulisan yang dibuat bisa dipengaruhi oleh bahan bacaan siswa. Oleh karena
itu, jika ingin mengembangkan bakat becerita anak memalui tulisan maka penting
untuk membeikan asupan berupa bacaan fiksi agar siswa terbiasa mengembangkan
imajinasi mereka yang nantinya bisa dirangkai ke dalam bentuk tulisan deskripsi
dan narasi.



Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan jejak di sini