LOMPATAN LITERASI MASYARAKAT INDONESIA
Tradisi lisan sebagai bagian dari budaya
masyarakat Indonesia masih bisa kita temukan secara utuh maupun sebagian di
tengah-tengah masyarakat. Beberapa tradisi lisan masih mewarnai kehidupan
banyak suku yang ada di Indonesia. Seperti pantun dalam masyarakat melayu yang
masih lestari hingga saat ini. Tidak jarang juga kita temukan cerita-cerita
rakyat yang masih diceritakan dari mulut ke mulut. Cerita-cerita ini sering
kita sebut dengan legenda yang berkaitan dengan suatu peristiwa, tempat ataupun
benda yang ada di lingkungan sekitar masyarakat. Ini juga menandakan bahwa
tradisi lisan berkembang kuat di masyarakat Indonesia.
Masyarakat Indonesia mengalami lompatan budaya ke
budaya visual melalui media sebelum tradisi lisan digantikan dengan baca-tulis.
Namun demikian tradisi lisan tidak hilang sepenuhnya dari masyarakat seperti
banyak kita temukan sekarang ini. Sehingga lebih sering kita lihat orang-orang
mengobrol dari pada membaca buku di tempat-tempat ruang publk. Seperti ruang
tunggu pesawat maupun trasnportasi umum jarang ditemukan orang membaca. Ini
juga bisa dikaitkan dengan masih kuatnya tradisi lisan yang ada di masyarakat.
Selain berbincang orang-orang juga lebih banyak menyibukkan diri dengan
aktifitas di media sosial daripada membaca buku.
Budaya ini dikatakan oleh Suherman sebagai
lompatan budaya, seperti yang dikutip oleh Arifin (2013), “Kita mengalami
lompatan budaya dari masa praliterer menuju pascaliterer, tanpa melalui masa
literasi.” Artinya bahwa sebelum masyarakat melalui masa literasi, perkembangan
zaman mengharuskan masyarakat menghadapi gempuran arus media yang begitu kencang. Sehingga budaya
aksara yaitu baca dan tulis belum begitu dibiasakan dalam kehidupan
bermasyarakat. Akibatnya budaya membaca sebagai sarana untuk menggali pengetahuan
tidak mengakar kuat dalam masyarakat. Begitu juga dengan budaya menulis sebagai
cara untuk menyampaikan gagasan belum menjadi kebiasaan yang dilakukan dalam
kehidupan sehari-hari.
Namun demikian, walaupun literasi masyarakat Indonesia
mengalami lompatan jauh maka tidak seharusnya menjadi halangan bagi pengembangan
bidaya literasi. Perkembangan media komunikasi yang begitu pesat bisa menjadi
keuntungan tersendiri. Banyaknya media sosial bisa menjadi alat yang ampuh
untuk bisa mengembangkan tradisi literasi di tengah masyarakat. Ke depan juga
bias menjadi peluang yang bagus untuk mengembangkan literasi berbasis digital
sejak usia dini untuk generasi yang akan datang. Karena genearasi yang lahir
saat ini menjadi digital native karena lahir pada masa milenial pada saat
peralatan digital atau gawai sedang berkembang pesat. Sehingga lompatan
literasi masyarakat Indonesia bisa diarahkan menuju literasi digital sesuai
dengan perkembangan zaman. Lompatan ini juga sesuai dengan kebutuhan pada masa
yang akan datang, masa yang dipenuhi dengan gawai dan arus informasi melalui
digital yang perlahan tapi pasti meniadakan penggunaan kertas. Di saat itulah
masyarakat kita sangat membutuhkan literasi digital yang menuntut penguasaan
gawai dan pengolahan informasi secara digital.
#TantanganODOP2
#onedayonepost
#odopbatch6
#nonfiksi



Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan jejak di sini