MEDIA SOSIAL, KAUM MILENIAL DAN DEMOKRASI
Melihat pemilu pada tahun 2014 lalu dapat dikatakan
bahwa keterlibatan kaum milenial (baca: kaum muda) pada pesta demokrasi cukup
signifikan. Selain keterlibatan secara electoral dalam pemilihan di bilik suara
namun juga dengan keterlibatan saat kampanye. Dengan angka 11 persen dari toal
pemillih 186 juta (Kompas, 2014) menunjukkan banyaknya pemilih pemula atau kaum
milenial yang memilih. Ini tidak lepas dari peran penyelenggara yang terus
mendorong agar partisipasi pemilih pemula terus meningkat.
Melihat partisipasi kaum milenial di pemilu 2014
bisa menjadi gambaran untuk keterlibatan pemilih di pemilu 2019 mendatang. Hiruk
pikuk kaum milenial terlihat dari penggunaan media sosial untuk kampanye calon legislative
maupun presiden. Tidak jarang terjadi perdebatan yang sengit di media sosial,
dan berujung pertengkaran. Tetapi juga tidak jarang membuka ruang diskusi yang
mendidik bagi pengguna media sosial. Tentunya ini situasi yang perlu diarahkan
agar betul-betull bisa menjadi pendidikan politik bagi pengguna media soail
yang didominasi oleh kaum milenial. Sehingga mereka tidak abai dengan kondisi
negaranya sendiri.
Pasca reformasi memang dapat dilihat perkembangan
media massa menjadi alat control yang dapat digunakan untuk menilai kebijakan
pemerintah. Apalagi kran media dibuka selebar-lebarnya oleh pemerintah agar
media massa bisa menjalankan fungsinya sebagai salah satu pilar demokrasi. Orang
bisa menngkritik pemerintah dengan leluasa di media, sehingga sangat efektif
juga untuk penggalangan opini public.
Dalam ruang demokrasi tentu ini sangat
menggembirakan, mengingat ide dan gagasan kaum milenial bisa jadi jarang muncul
di atas kertas. Media sosial inilah yang bisa menjadi corong untuk mereka
mengeluarkan ide, gagasn dan harapan terhadap para calon pemimpin yang akan
ikut dalam kontestasi pilcaleg dan pilpres. Apa lagi dengan kemajuan gawai dan
sumber daya manusia saat ini, diperkirakan pemilu 2019 akan menjadi perang
grafis, informasi akan banyak beredar dalam bentuk gambar-gambar atau meme.
Di sinilah dibutuhkan daya kritis (critical thinking) para pengguna
media sosial khususnya kaum milenial agar tidak terjebak dengan berita bohong (hoax).
Karena ini akan menyebabkan iklim demokarasi yang tidak baik kalau media sosial
dibanjiri dengan berita hoax. Akhirnya kaum milenial harus bersiap dengan daya
kritis tinggi untuk menggunakan media sosial dalam alam demokrasi di negeri
tercinta Indonesia ini.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6



Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan jejak di sini