KEKUATAN SEBUAH TULISAN: SYAIR WIJI THUKUL
Berbeda dengan Soekarno yang
menulis pledoi yang berisikan pandangannya atas tatanan dunia yang
dikuasai imperialisme, penyair Wiji Thukul memberikan kritik pedas terhadap pemerintahan
orde baru melalui bait-bait puisi. Puisi-puisi karya penyair dari Solo ini sangat
membakar dan membangkitkan semangat perlawanan di kalangan aktifis mahasiswa. Syair-syair
yang membakar ini dibacakan dalam demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan oleh kalangan
gerakan ’98. Begitu membakarnya syair-syair yang berisi ketimpangan pada jaman itu,
tidak terpisahkan dari upaya menggalang gelombang aksi mahasiswa untuk menjatuhkan
rezim orde baru. Walaupun pada akhirnya, sang penyair harus mengasingkan diri lantaran
diburu oleh alat rezim saat itu. Dapat dilihat bagaimana ketakutan rezim terhadap
tulisan dalam bentuk syair puisi oleh Wiji Thukul tersebut sehingga timbul tindakan
represif dari aparat.
Dari dua contoh yang dikemukanan
di atas, cukuplah kiranya untuk dijadikan rujukan bagaimana tulisan mempunyai kekuatan
yang begitu dahsyat. Akibat yang ditimbulkan mampum emberikan dorongan bagi perubahan
dalam negara maupun dunia, paling tidak dalam bentuk perubahan pemikiran atau cara
pandang terhadap realitas yang ada. Apa yang terjadi di sekitar mereka pada jaman
itu dituliskan dalam bentuk yang berbeda sesuai dengan kemampuan masing-masing duapenulis
tersebut. Kenyataan yang ada dipertentangkan dengan keadaan yang seharusnya didukung
dengan teori dari literatur yang merekabaca. Kemudian diungkapkan dengan bertutur
lewat tulisan yang menggemparkan.
Lalu bagaimana dengan insan akademis
baik yang masih belajar di kampus maupun alumni yang seharusnya akrab dengan dunia
tulis menulis? Kekuatan bisa ditunjukkan melalui tulisan tentang apa saja keresahan
di pikiran, sehingga bisa memberikan dorongan untuk perubahan kearah yang lebih
baik. Banyak hal yang bisa menjadi bahan tulisan di sekitar kita, tinggal bagaimana
kita olah dalam bentuk ide dalam tulisan agar bisa dibagikan kepada orang lain.
Dua orang tokoh di atas bisa mendorong perubahan bukan karena dipandang sebagai
orang besar yang kemudian melahirkan tulisan, justru dari tulisan merekalah
yang membuat nama besar mereka. Jadi jangan menunggu menjadi orang besar baru menulis
untuk melakukan perubahan, namun kekuatan tulisanlah yang bisa mendorong perubahan.
Karena sejatinya tulisan menyimpan kekuatan yang sangat besar.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6



Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan jejak di sini