PEREMPUAN REPUBLIK
![]() |
| Sumber: goodreads |
Judul Buku : LARASATI
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit :
Lentera Dipantara
Tahun terbit : 2003
ISBN : 9789799731296
“Kalau mati dengan berani; kalau hidup
denganberani.
Kalau keberanian tidak ada-itulah
sebabnya setiap bangsa asing bisajajah kita.”
--Pramoedya Ananta Toer
Pasca proklamasi kemerdekaan Indoensia
bukan berarti perjuangan berhenti sampai di sini. Perjuangan pembebasan dari kungkungan
kolonialisme (Penjajahan) yang disebut revolusi masih terus dikobarkan. Bagaimana
tidak, pasca Jepang ditaklukkan oleh pasukan sekutu maka nusantara berpindah tangan
dari Jepang ke Sekutu. Maka, pasukan sekutu datang ke Nusantara dengan melancarkan
agresi militer dan menduduki berbagai tempat strategis di pulau Jawa, termasuk
Jakarta sebagai pusat pemerintahan Republik yang baru seumur jagung.
Di tengah berlangsungnya perjuangan
revolusi mempertahankan republik yang muda belia ini, banyak pergolakan yang
terjadi. Tentunya kontak senjata dengan tentara colonial tidak bisa dielakkan lagi.
Segala keterbasan yang ada tentu menjadi salah satu penyebab pasukan Republik bersama
rakyat menderita banyak kekalahan di antara banyak kemenangan kecil yang bisa diraih.
Salah satu kekelahan yang cukup telak adalah jatuhnya pusat pemerintahan Republik
yaitu Jakarta ke tangan pasukan Kolonial. Sehingga memaksa pusat pemerintahan dipindahkan
ke Yogyakarta.
Mengambil latar waktu masa revolusi
inilah, Pramoedya Ananta Toer mencoba menggambarkan gejolak yang terjadi. Melalui
sudut pandang seorang Artis, Bintang Film terkenal saat itu, Larasati, Pram
mencoba menghadir kan suasana yang terjadi antar individu yang pro terhadap
revolusi dan yang kontra. Dengan menghadirkan Ara, sapaan akrab Larasati,
sebagai tokoh utama dalam cerita ini, digambarkan pertentangan yang terjadi antar
individu tersebut. Dengan latar yang mengambil tempat di pusat pemerintahan yang
dikuasai oleh pasukan kolonial, Jakarta, drama mengharukan tersaji melalui kisah
heroic para pemuda, dan tentunya gejolak padajiwa Aras ebagai artis yang masih sangat
kuat mendukung revolusi namun harus berhubungan dekat dengan para kaum oportunis
inlandder yang berpihak kepada penjajah hanya untuk kepentingan perut mereka sendiri.
Dimulai dengan perjalanan Ara untuk
pindah dari daerah pedalaman-Yogyakarta- menuju Jakarta, cerita ini menggambarkan
bagaimana kisah perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan di setiap daerah.
Dalam perjalana nmenggunakan kereta api banyak tentara yang mengenal bintang
film Ara, dan mereka sempat bertegur sapa walaupun hanya sebentar saja. Memang,
Ara terkenal baik di kalangan pasukan Republik maupun di kalangan pasukan penjajah.
Berbekal surat pengantar dari salah seorang perwira bernama Oding, Ara bisa masuk
ke Jakarta tanpa hambatan dan bertemu dengan kenalan lama yang bernama Mardjohan
dan Kolonel Serjo Sentono. Kedua orang oportunis ini mengajak Ara untuk membuat
film yang bertujuan untuk propaganda Belanda, namun ditolak oleh Ara dengan tegas
karena bertentangan dengan revolusi, semangat yang dijunjung tinggi dan terpatri
dalam sanubarinya sebagai orang Republik.
Dengan terang benderang, cerita ini
menggambarkan betapa semangat revolusi tidak hanya mengakar kuat pada kalangan pasukan
saja, namun setiap insan yang berada di Nusantara dan merasakan kejamnya penjajahan.
Inilah yang dialami oleh Ara, seorang bintang film pun bisa berbuat untuk revolusi
dengan caranya sendiri. Apalagi pemuda yang masih punya tenaga yang cukup untuk
mengangkat senjata. Hal ini digambarkan dengan apik dalam cerita ini di mana sekelompok
pemuda tetap berjuang melakukan penyerbuan-penyerbuan kecil terhadap pasukan
patrol Belanda namun cukup memberikan efek yang berarti bagi pasukan Belanda. Dengan
berani Ara pun sempa tterlibat dalam satu pertempuran dengan para pemuda tersebut
melawan pasukan patroli yang melintasi kampung di mana Ibu dari Ara tinggal. Dalam
pertempuran tersebut juga terlibat seorang pemuda yang bernama Martabat, yang
menyelamatkan Ara dari Mardjohan dan Sentono dan membawa ke kampung ibunya. Pemuda
ini berniat menuju pedalaman Yogya untuk bergabung dengan para pejuang Republik,
akhirnya terwujud dengan bantuan dari Ara. Penduduk kampung yang sebagian besar
kakek-nenek tidak ketinggalan dalam perjuangan revolusi, merekalah yang merawat
para pemuda yang terluka dan mengurus yang gugur akibat pertempuran.
Kampung di mana Ibu Ara tinggal merupakan
sebuah kampung kumuh namun menjadi tempat persembunyian para pemuda yang tetap gencar
melakukan penyerbuan-penyerbuan terhadap pasukan Belanda. Di sinilah akhirnya Ara,
tertahan dalam kurun waktu yang cukup lama demi keselamatan ibunya. Adalah seorang
Arab bernama Jusman, majikan di mania bunya bekerja sebagai babu, yang menahan ibunya
agar Ara mau datang dan tinggal di rumahnya. Jusman merupakan seorang Arab yang
berpihak kepada Belanda namun mencintai Ara. Dengan alasan untuk bermain gambus,
Ara diajak untuk bergabung pada awalnya. Akhirnya Ara tinggal bersama Jusman sebagai
perempuan simpanan tanpa dinikahi secara sah.
Seiring dengan gencarnya perlawanan
dari pasukan Republik, akhirnya pasukan Belanda, NICA, terdesak sehingga Jusman
pun pergi dari Jakarta untuk menyelamatkan diri. Tentunya ini menjadi keuntungan
bagi Ara yang bisa bebas dari kungkungan Jusman. Dengan demikian, Ara bisa keluar
dari rumah tersebut dan pada akhirnya bertemu dengan Kapten Oding, seorang perwira
yang dicintainya. Dengan pria ini Ara menikmati suasana kemenangan pasukan Republik
melalui perjuangan revolusi.
Walaupun berupa fiksi, cerita Larasati
bisa menggambarkan bagaimana situasi saat itu berdasarkan pengalaman pengarangnya
yaitu Pram. Terlihat jelas bahwa semangat revolusi begitu kuat dalam diri anak bangsa
yang punya harapan terhadap Republik. Bahkan para seniman pun terlibat dalam
propaganda menentang penjajah dengan keahlian mereka masing-masing. Tentu tidak
jarang mereka mendapatkan tindakan represif dari penajajah dan ancaman kelaparan
karena kurangnya pekerjaan bagi para seniman progresif seperti Ara d an teman-temannya.
Sebaliknya, tindakan yang kontra revolusi pun tidak kalah besarnya dari kaum oportunis
anak negeri yang hanya mencari keuntungan sendiri. Begitu juga pada kalangan tokoh
tua, yang digambarkan melalui pandangan tokoh utama dan tokoh lainnya, yang
memandang para tokoh tua yang kadang juga berlaku korup. Tidak peduli dengan gerakan
yang dilakukan oleh banyak kelompok-kelompok kecil yang mendukung revolusi.
Buku ini layak untuk dibaca karena
menghadirkan drama yang menarik kaitannya dengan perjuangan revolusi. Diceritakan
dari sudut pandang seorang perempuan yang begitu gigih bertahan demi revolusi. Cerita
ini tidak kental dengan suasana politis yang kerap tergambar dari cerita-cerita
tentang perjuangan revolusi yang lain. Namun menghadirkan cerita apik yang
begitu menyentuh hati bagi yang membacanya. Dengan membaca buku ini semakin menguatkan
pandangan bahwa Pramoedya Ananta Toer memang layak disebut sebagai penulis yang
cakap dalam menulis novel atau roman dengan latar belakang sejarah.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6



Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan jejak di sini