SEMBUH DENGAN MENULIS (Bagian 1): Terapi Menulis Bu Budi
![]() |
| sumber: http://biangnews4.blogspot.com |
Jika ada yang bertanya tentang apa manfaat menulis
maka salah satu jawaban yang saya utarakan adalah menulis itu menyembuhkan.
Menulis bisa menyembuhkan beberapa penyakit yang ada pada diri si penulis.
Namun tentu bukan penyakit yang sifatnya fisik seperti luka pada tubuh si
penulis. Oleh karena itu saya katakan menulis itu menyembuhkan bukan
menggunakan menulis itu obat.
Jawaban yang saya kemukakan di atas berdasarkan
atas pengalaman yang saya dapat baik dari membaca, mengamati dan refleksi
maupun mengikuti kegiatan bedah buku. Dalam tulisan ini akan saya kemukakan
setidaknya 3 pengalaman kenapa bisa dikatakan menulis itu meyembuhkan. Di
antaranya adalah pengalaman mengikuti bedah buku, ikut dalam komunitas menulis
serta refleksi dari pengalaman sehari-hari dan hasil membaca.
Pertama, alasan mengapa menulis itu menyembuhkan
akan saya jawab dengan pengalaman seorang guru yang melakukan terapi kepada
muridnya dengan tulisan. Adalah Bu Budiarini seorang guru pada sebuah sekolah
di Mojokerto Jawa Timur yang menuliskan pengalamannya melakukan terapi kepada
siswanya yang “sakit” dengan menggunakan tulisan. Bu Budi, begitu panggilan
akrabnya, saya kenal di sebuah komunitas menulis para guru besutan Media Guru
Indonesia. Sakit yang diderita oleh siswa di sini bukan berarti sakit secara
fisik, namun yang dimaksud di sini adalah siswa tersebut bermasalah.
Pengalaman menangani siswa yang bermasalah inilah
yang dituliskan dalam bentuk buku oleh Bu Budi yang diberi judul Writing
Therapy for Galauer. Buku ini berisi pengalaman Bu Budi dalam menangani
siswa bermasalah walaupun bukan seorang Guru Konseling (banyak yang
menyebutkannya dengan Guru BP) tetapi dia adalah seorang Guru Bahasa Indonesia.
Namun, menurut saya, justru karena itulah terapi yang digunakan adalah menulis
bukan terapi ala psikiater atau konselor. Menurut pengalaman yang dibagikan
dalam buku itu bahwa terapi itu berhasil.
Terapi menulis yang digunakan oleh Bu Budi
tersebut adalah di luar lazimnya terapi bagi siswa yang bermasalah. Kalau
menggunakan istilah yang banyak digunakan saat ini adalah anti mainstream.
Bagaimana tidak dikatakan di luar metode terapi yang biasanya dilakukan, setiap
siswa yang ditangani oleh Bu Budi pada saat konseling siswa disodorkan kertas
dan pulpen. Alih-alih siswa diberi nasihat panjang lebar namun Bu Budi hanya
memberikan alat dan media tulis kemudian meminta siswanya untuk menulis.
Menulis apa saja yang ingin ditulis oleh muridnya, tentu sebagian besar siswa
yang diterapi menceritakan permasalahan yang dirasakannya lewat tulisan
tersebut. Begitulah seterusnya, tiap pertemuan untuk terapi siswa diminta untuk
menulis. Dalam waktu yang beragam, sebulan, dua bulan, bahkan sampai 3 bulan,
banyak kemajuan yang ditunjukkan oleh terapi menulis tersebut. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa terapi menulis tersebut berhasil menangani siswa yang “sakit”
tersebut.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6



Mau pesan buku nya gimana caranya
BalasHapus