SEMBUH DENGAN MENULIS (Bagian 2): Cerita Felix
![]() |
| sumber: https://www.meutiarahmah.com |
Alasan kedua kenapa saya katakan menulis itu
menyembuhkan adalah dari pengalaman seorang penulis. Penulis tersebut akrab
dipanggil Felix, berasal dari NTT. Pengalaman itu dia ceritakan pada saat bedah
buku kumpulan cerpennya pada acara rutin Ngaji Sastra di Pusat Bahasa
Univesitas Negeri Surabaya (UNESA). Menurut pengakuan dari Felix bahwa
cerpen-cerpen pada buku tersebut dia tulis saat sedang menghadapi sakit berat
yang mengharuskannya kembali ke kampung halamannya di NTT dari tempatnya
menimba ilmu di Malang.
Saat berjuang menghadapi penyakitnya itulah Felix
mengisi hari-harinya dengan menulis. Kegiatan menulis dia lakukan di sela-sela
pengobatannya yang dilakukan baik secara medis maupun tradisional, yang menurut
pengakuannya dilakukan oleh dukun di kampungnya. Diakui oleh Felix bahwa
menulis pada saat dia berjuang melawan penyakitnya yang oleh orang-orang
kampung sampai disebut dia gila, membuat dia berangsur-angsur membaik. Pada
akhirnya sembuh total kemudian kembali ke Malang dan menerbitkan buku Kumpulan
Cerpen yang isinya, menurut pembedah saat itu, psikopat karena berisi
adegan-adegan yang cukup mengerikan bahkan sangat mengerikan. Kemungkinan besar
ini dipengaruhi oleh keadaan penulis saat itu. Dari proses kreatif yang membuatnya
lebih baik yang diceritakan oleh Felix disimpulkan pada acara Ngaji Sastra 4
saat itu bahwa sastra itu menyembuhkan.
Alasan ketiga kenapa saya katakan menulis itu
menyembuhkan adalah hasil dari pengamatan dan refleksi yang saya lakukan
sendiri. Menyembuhkan dalam hal ini saya artikan dengan membuat seseorang
merasa lebih baik dari segi perasaan. Penyakit yang dimaksudkan di sini adalah
kegelisahan atau kalau istilah yang digunakan saat ini adalah galau.
Merujuk pada pengalaman Bu Budi pada penyampaian sebelumnya tentang terapi
untuk para galauer memang secara empirik bisa dibuktikan. Aktifitas menulis
mampu mengurangi rasa galau tentang banyak hal yang dirasakan oleh Si Penulis.
Mulai dari kegelisahan tentang fenomena yang sedang berkembang di sekitarnya
seputar politik, ekonomi, sosial sampai masalah asmara.
Selain dari membaca tulisan, karena tulisan dengan
topik yang sama sudah banyak ditulis oleh pada penulis. Kalau kita amati pada
kehidupan sehari-hari, bisa dijadikan bukti empirik bahwa menulis menjadi salah
satu pilihan dalam urusan menghalau galau di hati. Bukti tersebut bisa kita
lihat pada banyak status di dinding media sosial salah satunya Facebook. Menulis
di media sosial menjadi pilihan banyak pemilik akun untuk menumpahkan isi
perasaannya, utamanya kegalauannya terhadap sesuatu yang tidak jarang sampai
menuliskan hujatan dan umpatan. Hal ini diyakini bisa membuat perasaan terasa
lebih plong layaknya bagi kebanyakan orang yang rajin menulis di Dairy
pribadinya sebelum tergantikan oleh media sosial pada saat ini.
Dari ketiga alasan di atas tentu dapat dilihat
bagaimana menulis itu bisa membuat perbaikan pada diri seseorang, kalau dalam
tulisan ini kita sebut menyembuhkan. Tentunya hal yang demikian itu terkait
dengan faktor dorongan semangat atau motivasi yang didapat dari kegiatan
menulis. Bisa menjadi faktor utama maupun faktor pendukung dalam proses
penyembuhan tersebut. Dengan demikian mari menulis apa saja yang menjadi
kegalauan pada diri kita, tidak peduli panjang pendeknya tulisan tersebut yang
terpenting adalah menulis karena menulis itu menyembuhkan.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6



Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan jejak di sini