TENTANG PILIHAN (Bagian 2): LAIN DULU LAIN SEKARANG
Pada pemilihan legislatif 2019 yang akan datang
begitu banyak orang yang terlibat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat,
tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh perempuan sampai akademisi pun ikut terlibat.
Semua tentunya membawa cita-cita ingin memajukan daerah dan negeri ini melalui
jalur parlemen sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Tidak menutup kemungkinan
juga ada dorongan-dorongan lain secara pribadi yang membuat banyak kalangan
terlibat dan berebut kursi anggota legislatif, baik dari pusat sampai ke
daerah-daerah. Ada yang sudah menjadi anggota legislatif maupun orang-orang
yang baru terlibat. Mereka tersebar dalam berbagai partai politik yang ada yang
digunakan sebagai kendaraan politik untuk menuju kursi anggota legislatif.
Yang menarik pada tahun 2019 ini maupun tahun
sebelumnya 2014 yaitu keterlibatan aktifis massa yang berlatar belakang ormas pemuda
dan mahasiswa. Memang tidak sedikit yang sudah duduk di kursi anggota
legislatif, terutama aktifis 98 yang berjuang untuk mewujudkan reformasi. Namun
efeknya begitu besar sampai daerah-daerah mulai terasa sejak 2014 lalu dan meningkat
pada PEMILU tahun 2019 mendatang, yang mana tahapannya sudah dimulai sejak
September kemarin. Tentunya usia mereka masih tergolong muda dan sangat
potensial jika dilihat dari kemampuan dan cita-cita pembangunan dan perbaikan seperti
yang diusung sejak menjadi aktifis dulu.
Melihat keikutsertaan para aktifis ini dalam
pemilu legislatif tidak sedikit yang menyangsikan kinerja mereka ke depannya.
Banyak yang ragu akan prinsip dan cita-cita perjuangan mereka akan masih sesuai
dengan saat mereka belum menjadi anggota legislatif. Keraguan ini tidak jarang
datang dari teman mereka sendiri yang tidak masuk dalam putaran politik
praktis. Ini terlihat dari banyaknya perdebatan yang terjadi maupun komentar
yang muncul di lini massa media sosial Facebook. Beberapa anggapan yang
mengemuka adalah bahwa para aktifis yang terlibat politik praktis sudah tergiur
dengan empuknya kursi jabatan. Mereka dikatakan sudah lupa akan perjuangan yang
mereka kobarkan lewat luar parlemen. Melalui parlemen jalanan, dulu mereka
kerap menyuarakan aspirasi dan tuntutan rakyat yang dibawanya.
Mendapat tanggapan demikian, tentu para calon
anggota lgislatif dari kalangan aktifis pemuda ini menyampaikan sanggahan untuk
justifikasi atas pilihan yang mereka ambil. Menurut mereka, cita-cita
perjuangan tidaklah berubah, masih seperti sedia kala saat dulu masih menjadi
aktifis massa. Hanya saja taktik yang berubah, dulu melalui luar parlemen kalau
sekarang berusaha melalui dalam parlemen. Keadaanlah yang membuat mereka harus
merubah taktik perjuangan tanpa harus menafikan perjuangan lewat luar parlemen
atau luar kekuasaan. Keadaan yang membutuhkan perbaikan dari dalam system itu
sendiri. Butuh orang-orang baik untuk mengisi kursi-kursi penentu kebijakan
agar kebijakan yang ditelurkan berpihak kepada rakyat.
Begitulah dinamika keterlibatan para aktifis
pemuda dan mahasiswa yang menjadi calon anggota legislatif. Di satu sisi
mendapat cemoohan dari kawan yang masih tetap di jalur luar parlemen, di satu
sisi juga ini merupakan pilihan politik yang sah menurut undang-undang yang
berlaku. Satu hal yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa keadaan sudah
berubah, lain dulu lain sekarang, lain keadaan berbeda pula taktik perjuangan.
Tidak ada yang salah selama ketika duduk di legislatif nanti mereka masih tetap
di jalur perjuangan dan cita-cita mulia sejak dulu yaitu mewujudkan rakyat yang
sejahtera. SEMOGA.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6



Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan jejak di sini