TENTANG PILIHAN (Bagian 1): PILIHAN TERSANDERA STIGMA
Dua kali perhelatan pemilihan umum, utamanya
pemilihan presiden dan wakil presiden, yaitu tahun 2014 dan 2019 yang akan
datang entah mengapa begitu sulit dalam menentukan pilihan. Bukan karena sulit
menentukan mana yang terbaik dari yang baik-baik, namun sulitnya dalam
mempunyai pilihan. Bagaimana tidak, saat sudah mempunyai pilihan sejak 2014
yang lalu maka bersiap-siap mendapat julukan salah satu dari dua istilah yang
begitu tidak enak didengar. Sungguh tidak elok untuk disematkan pada manusia
yang sudah mempunyai akal dan berbudaya. Bahkan lebih jauh lagi, perkara agama
pun menjadi pembeda di antara yang seagama sekalipun. Yang mana saudara seiman
bahkan sampai mengatakan saudaranya yang lain kafir karena beda pilihan.
Menganggap diri paling beragama saat memilih salah satu pasangan calon atau
partai tertentu.
Sulitnya mempunyai pilihan pada tahun politik
terakhir ini tidak terasa pada tahun-tahun sebelumnya. Sebelumnya, isu SARA
(Suku, Agama, Ras, Antargolongan) tidak santer terdengar pada tahun-tahun
politik sehingga pilihan apapun itu tidak terlalu membebani pribadi
masing-masing. Tidak ada saling cap ini dan itu, tidak ada yang merasa paling
beriman lantaran pilihan politik. Kesemuanya itu sirna lantaran narasi-narasi
SARA yang dikemukakan sejak tahun pemilihan umum 2014 dan dipelihara sampai
saat ini. Tentu dengan tujuan politik semata, bukan tentang kepentingan umat
beragama. Padahal banyak hal lain yang menjadi pertimbangan dalam menentukan
pilihan tentunya, tidak semata terkait dengan narasi-narasi yang dibangun
akhir-akhir ini melalui media sosial dan media massa.
Saling serang dan bertahan dalam sebuah kompetisi
seperti pemilihan umum tentu tidak ada salahnya. Tergantung pada tentang apa
yang menjadi isi dari serangan terhadap lawan. Tentu yang paling elok adalah
adu program ke depan maupun yang sudah dijalankan. Namun kemudian ini menjadi
celah yang empuk bagi pembuat dan penyebar berita bohong (hoax) untuk
saling menyudutkan bahkan menjatuhkan. Nafsu menjatuhkan ini bahkan sampai pada
tataran pribadi sang calon yang mana ilmu cocokologi (berusaha
mengaitkan) merajalela di dunia maya dan sangat gampang disebarluaskan. Perang
pernyataan di media massa oleh para elit politik juga menjadi tontonan bagi
masyarakat, sehingga diskusi dan adu gagasan sudah jarang di dunia nyata. Dunia
maya menjadi arena tarung bebas bagi para elit dengan mengeluarkan
pernyataan-pernyataan yang terus memupuk kebencian.
Stigma-stigma yang berkaitan dengan SARA memang
cukup membuat pilihan politik menjadi berat, apa lagi sudah menjurus ke stigma
berkaitan dengan iman dan agama. Belum tentu dengan memilih partai A seseorang
kemudian bisa diukur tingkat keimanannya, seperti gampangnya seseorang menganggap
dirinya lebih beriman daripada yang lain karena memilih partai B yang kebetulan
berciri religius. Jika ini dipelihara terus menerus maka tidak menutup
kemungkinan akan timbul celah-celah perpecahan yang semakin lebar. Akan lebih
sulit lagi jika menjadi kelompok minoritas pada suatu lingkungan dengan pilihan
yang berbeda. Banyak sudah ditemukan perpecahan di bawah hanya karena pilihan
politik di tingkat pusat, yang sampai menyentuh ranah perkawanan. Yang mana
perkawanan ini bisa rusak gara-gara beda pilihan.
Oleh karena itu mari
sudahi saling semat-menyematkan stigma negatif hanya karena beda pilihan
politik. Akan lebih baik jika masing-masing kita menonjolkan kebaikan-kebaikan
masing-masing calon yang menjadi pilihan dan menegasikan keburukan-keburukan
yang dimiliki. Karena sesungguhnya kontestasi politik praktis adalah ajang adu
gagasan berkemajuan, bukan saling buka aib. Tentu tidak salah mendasarkan agama
sebagai landasan untuk menentukan pilihan, karena sudah diatur dalam
masing-masing agama yang ada. Namun bukan menjadi dasar untuk memberikan stigma
negatif kepada saudara seiman yang kebetulan berbeda pilihan, karena bisa saja kriteria
yang digunakan adalah lebih besar kepada kemampuan di luar agama. Mengingat kompleksitas
persoalan yang dihadapai negeri ini, melalui pemilihan umum yang akan datang
maka penting untuk melahirkan pemimpin yang betul-betul kompeten dalam
mengelola NKRI ini secara menyeluruh.
#komunitasonedayonepost
#ODOP_6



Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan jejak di sini